close

Showbiz

Showbiz

Sepak Terjang Larry King Sebagai Penyiar Legendaris AS

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Penyiar legendaris Amerika Serikat, Larry King, meninggal dunia di usia 87 tahun. Kabar tersebut disampaikan langsung melalui akun Twitter resminya, @kingthings.

Sebelum kabar duka tersebut diumumkan, Larry King sempat dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Namun hingga kini penyebab kematiannya masih belum terungkap.

Larry King memulai kariernya di dunia penyiaran saat bertemu dengan penyiar televisi CBS. Kala itu ia bekerja di sebuah stasiun radio Miami WAHR sebagai orang yang bertanggung jawab dalam menjaga kebersihan.

Ia diminta untuk menggantikan penyiar laki-laki yang berhenti di tahun 1957, dan terkesen dengan gaya King sebagai penyiar. Sehingga ia pun langsung ditempatkan pada siaran pukul 09.00 dan bertanggung jawab dalam menyiarkan berita sore dan olahraga.

Larry King sempat terlibat kasus hukum saat dituding melakukan pencurian besar-besaran oleh mantan mitra bisnisnya pada 1971. Hal tersebut membuatnya kehilangan pekerjaan.

Ia kemudian dibebaskan dari semua tuduhan, namun terlilit utang satu tahun kemudian. Larry King pun berusaha mengembalikan kembali namanya, dan akhirnya dipekerjakan oleh WIOD dan memulai acara The Larry King Show pada 1970.

Semenjak itu, namanya pun semakin besar dan membuat Larry King menjadi salah satu penyiar legendaris di Amerika Serikat.

Selain itu, hubungannya dengan Donald Trumpjuga menyita perhatian. Ia mengaku berteman dekat dengan Trump sebelum pada akhirnya sang pebisnis terjun ke politik.

“Ia tampil di acaraku beberapa kali. Aku makan malam bersamanya, bersosialisasi dengannya,” ujar Larry King yang mengaku sudah 40 tahun berteman dengan Trump.

“Saat kami bertemu lagi, aku ingin sekali bilang kepadanya, ‘Donald aku sangat menyayangimu. Kau adalah temanku yang sangat baik. Tapi aku tak percaya ucapan-ucapan yang kau sampaikan’,” ungkapnya kala itu.

Pengakuan soal Pernikahan

Sepanjang kariernya, kehidupan pribadi Larry King juga menjadi sorotan. Hingga tutup usia, ia terhitung sudah tujuh kali menikah.

Dalam wawancara dengan People, Larry King menjelaskan alasan keputusannya menikah berkali-kali. Ia mengaku bukan orang yang sebenarnya bisa berkomitmen.

“Di kepalaku aku bukan orang yang tertarik dengan pernikahan. Saat aku tumbuh besar, tak ada satu pun orang yang tinggal bersama (tanpa pernikahan),” ungkapnya.

“Jika kau jatuh cinta, kau akan menikah. Jadi aku menikah dengan orang-orang yang kucintai. Tapi orang yang kucintai di usia 20 tidak sama dengan yang kucintai di usia 30. Dan orang yang kucintai di usia 30 tidak sama dengan yang kucintai di usia 40,” jelas Larry King.

Larry King menikahi kekasihnya saat SMA, Freda King, pada usia 18 tahun, di tahun 1952. Namun keduanya berpisah setelah orangtua keduanya tidak setuju.

Ia kemudian menikah dengan Anette Kaye, yang bertahan kurang dari 1 tahun. Setelahnya Larry King menikah dengan Mickey Sutphin selama 3 tahun sebelum bercerai pada 1967.

Larry King menikah dua kali dengan Alene Akins, pertama pada 1961 hingga 1963 dan 1868 hingga 1971. Setelah keduanya bercerai, ia menikah lagi dengan Sharon Lepore pada 1976 sebelum bercerai pada 1983.

Setelahnya Larry King menikah lagi dengan Julie Alexander setelah bertemu di tahun 1989. Namun mereka bercerai 3 tahun kemudian.

Ia menikah dengan Shawn Suthwick pada 1997. Setelah 22 tahun meniah, keduanya memutuskan berpisah.

 

 

 

SC : detik.com

read more
Showbiz

Blue Mansion Jadi ‘Senjata’ Kedua Dewa Budjana alam Naurora

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Dewa Budjana mengeluarkan single kedua dari Naurora dengan tajuk Blue Mansion. Naurora merupakan album ke-12 dari musisi kelahiran 30 Agustus 1963 itu yang rencananya bakal dirilis pada Februari 2021.

Dalam penggarapan Blue Mansion, Dewa Budjana melibatkan musisi mancanegara, yakni Simon Phillips mengisi drum, Carlitos Del Puerto mengisi bas, dan Gary Husband mengisi piano.

Dalam siaran persnya, Dewa Budjana mengatakan komposisi dari Blue Mansion menggambarkan langkah atau gerak. “Dalam ritme lagu dan putaran melodik menjadi isyarat atau pertanda kapan saatnya menemukan kedamaian,” tulis keterangan itu.

Lebih jauh, Dewa Budjana menerangkan, kata “blue” yang berarti biru dalam judul lagu itu menggambarkan kesedihan yang berulang sebagai luapan perasaannya atas kejadian saat ini.

Sebelum melepas Blue Mansion sebagai ‘senjata’ keduanya menjelang album Naurora, Dewa Budjana telah lebih dulu mengeluarkan single Kmalasana yang juga melibatkan Simon Phillips dan Carlitos Del Puerto.

Nyaris serupa dengan Blue Mansion yang bercerita tentang kesedihan berulang yang dialami di masa-masa saat ini, Kmalasana bertutur mengenai perenungan saat pandemi melanda nyaris di seluruh dunia dalam waktu yang bersamaan.

Kmalasana lahir sebagai cara Dewa Budjana menginterpretasikan kondisi alam saat ini.

Dewa Budjana merupakan musisi berdarah Bali dengan nama lengkap I Dewa Gede Budjana. Ia dikenal sebagai anggota grup musik GIGI.

Akan tetapi, sepak terjangnya di dunia musik tidak terbatas pada bermusik dalam band. Sebagai gitaris solo, ia telah mengeluarkan sejumlah album, di antaranya Samsara (2003), Joged Kahyangan (2013), Hasta Karma (2015), Zentuary (2016) hingga Mahandini (2018) dan lain-lain.

Belum lama ini, Dewa Budjana juga menggagas proyek musik kolaboratif yang menghasilkan lagu berjudul Satu Jalan. Dalam proyek itu ia mengajak 14 musisi.

Sejumlah musisi itu antara lain Trie Utami, Tompi, Fadly ‘Padi’, Once Mekel, Dira Sugandi, Lea Simanjuntak, Edo Kondologit, Sruti Respati, Ivan Nestorman, Ayu Laksmi, Uyau Morris, Alvin Witarsa (strings), Gev Delano (bass) dan Mesty Ariotedjo (harpa).

 

 

 

source : Dyah Paramita Saraswati – detikHot

read more
Showbiz

Edisi ke-11 “Makassar Jazz Festival 2020” Hadir Dengan Konsep Virtual Festival

LANGITKU NETWORKS, Makassar – Perhelatan event jazz tahunan kebanggaan masyarakat Makassar, “Makassar Jazz Festival” kembali digelar dengan konsep Virtual Festival.

Setelah 10 edisi sebelumnya selalu digelar di benteng Fort Rotterdam Makassar, dengan menghadirkan beberapa musisi jazz Ibukota, mancanegara dan juga kota Makassar sendiri, tahun ini Makassar Jazz Festival 2020 sedikit mengalami perubahan format.

Format virtual festival menjadi pilihan saat ini mengingat kondisi pandemi Covid 19 yang belum kunjung selesai.

Adapun jadwal Makassar Jazz Festival 2020 adalah :

  • 25 November 2020, berlokasi di Mall Phinisi Point Makassar (Pipo) yang disiarkan mulai pukul 16.00 – 22.00
  • 27 November 2020, berlokasi di Gravity Sky Lounge Hotel Swissbel Makassar mulai pukul 17.30 – 22.00

“Berhubung saat ini sedang pandemi Covid 19, edisi ke-11 MJF 2020 digelar secara Virtual Festival di 2 lokasi yang berbeda agar memberikan nuansa festival yang berbeda setiap harinya” ucap Chairman MJF, Yosi NR.

Menurutnya, seperti kebiasaan MJF setiap tahun yang selalu menyiapkan 2 hingga 3 panggung di venue, maka tahun inipun sengaja dipisahkan hari dan tempatnya untuk memberikan kesan MJF tetap pada konsepnya yaitu 2 hari dan 2 panggung.

Menurut Festival Director MJF, Darul Aqsa, Makassar Jazz Festival 2020 akan disiarkan secara live melalui channel youtube, “untuk penikmat jazz kota Makassar bisa nonton secara langsung virtual festival MJF 2020 ini melalui channel youtube : Makassar Jazz Festival”, selain channel youtube, MJF 2020 juga bisa disaksikan lewat FB dan Instagram milik MJF. “kami berharap para penikmat musik jazz dapat menyaksikan festival jazz tahunan ini dari rumah dengan nyaman dan aman” imbuhnya.

Rundown MJF 2020

Makassar Jazz Festival 2020 kali ini menampilkan band-band terbaik kota Makassar, seperti Phinisi band, AIMs band, Rainbow Head, Yellow Lines band, Crackerjack, Passion band, Gino Pesulima Quintet dan Sasiroe band. Setiap band yang tampil di MJF 2020 sudah mempersiapkan konsepnya masing-masing, sebut saja Phinisi band dengan konsep Latin Jazz, Yellow Lines band yang sudah mempersiapkan Indonesian Jazz Populer, Passion band dengan konsep Jazzy Tunes, serta Sasiroe band dengan format music 80’s.

Dengan mengusung tema “The Spirit of Jazz” , Makassar Media One selaku penyelenggara Makassar Jazz Festival 2020 berharap, para musisi, penikmat dan pemerhati musik jazz Makassar untuk tetap semangat menjalani kehidupan normal baru yang sedang kita lalui saat ini.(jalu)

read more
Showbiz

Tampil Gemilang, Wayang Orang Daring Pertama Sirnaning Pagebluk

LANGITKU NETWORKS – “Empak empo tan kuciwa memanise esemmu, nimas ayu Dyah Sembodro pepujanku, wong kuning, legananan tresnaku sundhul wiyati…

Suara Prabu Corona Bhirawa memecah adegan pertama. Inilah pagelaran wayang orang daring pertama di Indonesia, yang disiarkan langsung via ZOOM pada Sabtu 27 Juni 2020 lalu.

“Saya terpaku di depan layar komputer. Laksana ribuan jarum kecil yang menyerbu pori-pori sekujur badan,” ucap Didi Kaspi Kasim, Editor In Chief National Geographic Indonesia.

Acara bertajuk Akhir Pekan Bersama Siaran Langsung Via Zoom Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia Sirnaning Pagebluk itu dibuka oleh Prabu Corona Bhirawa dengan tembangnya. Hingga Dewi Wara Sembodro bersanding bersama Raden Arjuna saat menutup pagelaran.

“Semua awak pementasan ini seolah menahan napas,” kata Didi. “Kami mengakhiri pagelaran dengan melepas layar hijau yang berfungsi sebagai latar maya, yang disaksikan langsung oleh para pemirsa. Barangkali ini yang mengejutkan pemirsa: Pagelaran wayang orang ini benar-benar dipentaskan dari rumah masing-masing seniman. Kini, semuanya bisa menyaksikan kehidupan nyata di rumah para seniman: lemari, meja, kursi, dan hiasan dinding,” lanjutnya.

Walaupun pertujunkan itu jauh dari sempurna kata Didi. Namun, banyak seniman lain yang kelak bisa menyempurnakan dan membuat purwarupa dalam dunia pertunjukan digital yang lebih epik.

Peserta yang hadir pun turut memanjatkan pujian dan kepuasan selama menonton pertunjukan wayang orang tersebut.

“Sirnaning Pagebluk” dalam Bahasa Indonesia bermakna “Hilangnya Pandemi”. Tajuk itu merupakan refleksi kita akan keprihatinan, doa, dan pengharapan supaya pandemi lekas berlalu.

Rencana pertunjukan itu sudah di rancang oleh Paguyuban Wayang Orang Bharata dan National Geographic Indonesiasejak lebih dari sebulan lalu.

“Cerita ini bermula dari diskusi bersama awak National Geographic Indonesia. Kami berbincang tentang kekhawatiran nasib para pekerja-pekerja seni yang terdampak situasi dari pagebluk ini. Tanpa pagebluk pun situasi sudah serba sulit bagi mereka. Berat rasa hati membayangkan mereka menghadapi hari-hari bersama keluarga,” ucap Didi.

Betul saja, lebih dari 100 pekerja seni di paguyuban itu harus merindukan pentas. Pagebluk telah memutus hubungan antara mereka dan panggung pementasan di Senen. Semangat mereka untuk berekspresi dan berkarya demi melestarikan budaya tercekat pagebluk.

Walaupun semula tidak paham bagaimana cara mewujudkanya. Pertunjukan ini di dasari oleh pengetahuan panggung daring National Geographic Indonesia dan pengetahuan dan keahlian luar biasa wayang orang dari Paguyuban Wayang Orang Bharata.

“Kami berlatih dan bergelut dengan teknologi, yang sejatinya masih belum menguasainya dengan betul. Kami juga mencari solusi agar pertunjukkan wayang orang ini tetap mempertahankan pakem-pakemnya.”

Didi melanjutkan “Ini bukan perkara mudah. Tak ada buku panduan pertunjukan yang bisa menjelaskan dan memandu kami bagaimana cara mudah melakukannya. Kami harus mencobanya satu per satu, dari kegagalan demi kegagalan.”

“Wayang Orang Daring Pertama di Indonesia” merupakan sinergi National Geographic Indonesia, seniman wayang orang Bharata, bersama PT. Pertamina (Persero) sebagai mitra dalam program pelestarian budaya.

 

source : Siaran Langsung Via Zoom Sinarning Pagebluk

editor : Mahandis Yoanata Thamrin

 

read more
Showbiz

Java Festival Production Kembali Hadirkan Soulnation Virtual Edition Dalam Melomaniac

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Setelah mengadakan sesi live streaming pertama Melomaniac, pada 4 Juli 2020 yang sukses, PT. Java Festival Production sekarang akan mengadakan serangkaian pertunjukan Melomaniac di www.jfp.events. Edisi kedua ini akan mulai disiarkan pada 18 Juli 2020 dengan tema “Soulnation Virtual Edition”. Tema ini dibuat berdasarkan serangkaian festival yang dilakukan oleh Java Festival Production beberapa tahun yang lalu yang dikenal sebagai Java Soulnation Festival yang digunakan untuk menyajikan musik R&B, Soul dan Hip Hop.

Melomaniac: Soulnation Virtual Edition akan menampilkan artis dan musisi yang berbeda di setiap sesi. Pada tanggal 18 Juli 2020, pertunjukan ini akan menghadirkan Bubu, Matthew Sayersz, Kyriz Boogieman dengan Home Band “EZ Collective” (Elfa Zulham, Sri Hanuraga, Dhani Syah, Jordy Waelauruw, Reynold Banea, Kevin Yosua, Ayoe & Henry Gaspersz) dan mereka akan menampilkan lagu-lagu bertajukneo-soul, lagu asli mereka sendiri, dan lagu-lagu D’Angelo, Common, Erykah Badu, Lauryn Hill, Musiq Soulchild, Robert Glasper – Black Radio dan masih banyak lagi.

Selain musisi yang berbakat dan lagu-lagu yang menakjubkan, penonton juga dapat mengirimkan pesan kepada musisi yang tampil melalui fitur live chat yang terdapat di situs streaming dan akan ada kesempatan bahwa pesan-pesan tersebut akan dibacakan oleh artis yang sedang tampil.

Tiket Melomanaic: Soulnation Virtual Edition dapat di beli melalui
www.jfp.events/ticket/melomaniac-soulnation-ve
(jalu)

read more
Showbiz

Java Jazz Production memperkenalkan kreasi terbaru “Melomaniac”

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Kehidupan normal baru telah tiba dan kini saatnya untuk menciptakan cara baru untuk menghibur diri. Kreasi terbaru Java Festival Production bernama “Melomaniac” adalah serangkaian acara yang akan disiarkan langsung dan dibuat untuk memenuhi kerinduan konser musik live dan juga untuk terus mendukung industri musik di tengah pandemic yang telah terjadi. 
 
Melomaniac: Black American Music Edition adalah sesi pertama dari rangkaian seri yang akan diluncurkan terjadwal untuk disiarkan langsung pada hari Sabtu, 4 Juli 2020 pukul 19:30 WIB. Melomaniac: Black American Music Edition akan menampilkan lagu-lagu dari artis seperti Marvin Gaye, Aretha Franklin, Stevie Wonder, hingga Whitney Houston dan masih banyak lagi. Lagu-lagu tersebut akan dibawakan oleh beberapa artis terbaik Indonesia seperti Dira Sugandi, Elfa Zulham, Sri Hanuraga, Dhani Syah, Kevin Yosua dan Ayoe.
read more
Showbiz

Di Tengah Pandemi, FFI 2020 Akan Diselenggarakan dengan Fleksibel

LANGITKU NETWORKS – Penganugerahan Festival Film Indonesia (FFI) 2020 akan tetap diselenggarakan pada 5 Desember 2020 dan malam nominasi pada 7 November 2020.

Aktor Lukman Sardi sekaligus Ketua Komite FFI tahun ini mengatkan bahwa pelaksanaan tahun ini berbeda karena komite dan tim kerja mempersiapkanya dengan segala kemungkinan.

“Misalnya malam nominasi November, kalau keadaanya memungkinkan kita akan menjalankanya di satu tempat dengan protokol yang ketat seperti jumlah orang, lokasi, dan sebagainya. Lalu, kita juga menyiapkan via virtual. Termasuk malam anugrah, kita juga menyiapkan dua alternatif. Memang lebih double kerjanya. Apa pun itu bentuknya tidak mengurangi Festival Film Indonesia,” ucapnya pada Konferensi Pers Daring Peluncuran Festival Film Indonesia (16/06/2020).

Saat ini FFI telah mengumpulkan 53 judul film panjang sejak 1 Oktober 2019 sampai 15 Maret 2020 lalu yang sudah ditayangkan di bioskop dan layanan Over The Top (OTT) kata Komite Penjurian FFI, Nia Dinata.

Film lain seperti dokumenter, film pendek, dan animasi juga akan diikutsertakan dalam penilaian yang telah dikumpulkan melalui komunitas.

Tahun ini, FFI melakukan keleluasaan terhadap film-film yang belum tayang sejak 15 Maret 2020. Mereka yang tayang di bioskop, drive in cinema, dan OTT juga berkesempatan untuk mendapat penjurian selain 53 film yang sudah masuk sebelumnya sampai 30 September 2020.

“Sambil menanti bulan Agustus nanti kalau bioskop buka, kita masukkan ke daftar seleksi. Untuk film yang tidak tayang virtual, kita kerjasama dengan produser masing masing untuk memasukkan screener yang tertutup untuk para kurator,” ucap Nia di acara yang sama.

Selain itu, tahap penjurian dan seleksi masih mengikuti format yang sama di tahun sebelumnya. Untuk tahap seleksi, sebagai tahap awal perjalanan panjang menuju penominasian dan penganugerahan akan dikuratori oleh berbagai profesi. Yakni akademisi, jurnalis, dan aktor.

Nama-nama tersebut diantaranya Nungki Kusumastuti, Prima Rusdi, Hera Diani, Makbul Mubarak, Tam Notosusanto, Rangga Wisesa, Lulu Ratna, Yustinus Kristanto, Fransiska Prihadi, Alia Damaihati, Amelia Hapsari, Dimas Erdhinta Pratama Putra, Wahyu Aditya, Chistian Aditya, dan Romy Oktaviansyah yang melanjutkan tugas sebagai kurator seperti tahun sebelumnya.

Memperkuat nama-nama kurator tersebut, kini bergabung jurnalis senior Leila S. Chudori. Mereka akan menonton ke-53 film yang sudah memenuhi syarat diputar di bioskop.

Untuk dasar penilaian utama di tahap seleksi, masih berpegang teguh pada kualitas teknis dan estetika. Berikutnya adalah profesionalisme kerja yang tercermin dari filmnya sendiri lalu orisinalitas cerita.

Nia menambahkan: “Kami juga masih mengusung keberagaman. Film-film yang akan terseleksi ada perspektif keberagaman, Bhinneka Tunggal Ika. Apa yang terjadi secara sosial di Amerika pasti mempengaruhi seperti Black Lives Matter, artinya kita sebagai manusia harus menghormati manusia tidak dari warna kulit, latar belakang, agama dan etnisitasnya. Keberagaman yang kita pertajam maksudnya adalah seperti itu. Film-film yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan yang setara akan kami pilih.”

FFI pun sudah memulai pekerjaanya sejak Januari 2020 lalu.

“Sebelum mengetahui ada pandemi, kita sudah bekerja dan brainstorming dengan Dirjen Kebudayaan. Saat pandemi menyerang kita, beberapa program seperti malam anugerah 5 Desember dan nominasi 7 November, itu kita hati-hati sekali memikirkanya untuk tetap mengadakanya atau tidak. Dengan segala fleksibilitas yang disesuaikan dengan pandemi, kami tetap melaksanakannya,” pungkasnya.

source :

editor : Gita Laras Widyaningrum

Nationalgeographic.co.id

read more
Showbiz

Mengapa Bohemian Rhapsody Menjadi Lagu Terbaik yang Pernah Ditulis?

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Bohemian Rhapsody yang dipopulerkan oleh Queen adalah lagu paling berpengaruh dan menginspirasi dalam sejarah musik modern. Ia terdengar sebagai maha karya seni serius yang berhasil dicintai oleh berbagai generasi, mungkin sampai beberapa dekade ke depan.

Bohemian Rhapsody memiliki efek yang amat langka pada orang-orang yang pertama kali mendengarnya. Dengan durasi lagu 6 menit, ia menempatkan opera di tengah-tengah lagunya.

Irwin Fisch, seorang Professor di NYU Steinhardt pada tayangan Insidermengatakan bahwa Bohemian Rhapsody memajukan musik pop karena memasukkan sekelompok lagu yang berbeda pada sebuah karya.

“Jika orang menyebut “Bohemian Rhapsody” sebagai sebuah lagu, itu sedikit keliru. Ini sebenarnya tiga atau empat lagu,” ucap Fisch di YouTube Insider (01/11/2018).

Jika dianalisis, Bohemian Rhapsody sebenarnya dapat dibagi menjadi lima bagian yang berbeda. Capella, balada, opera, hard rock, dan coda yang reflektif.

Inovasi itu sebetulnya sudah dimulai sejak pertengahan 1960-an oleh Beach Boys dengan Good Vibrations dan The Beatles dengan A Day in the Life. Queen, berdasarkan gagasan tersebut, mengembangkanya lebih jauh, ungkap Fisch.

Untuk melihat seberapa jauh Queen melampaui pendahulunya, kita perlu melihat bagian opera pada lagu ini. Lirik dan nama karakter italias klasik, kutipan bismillah pada Al-Qur’an, dan Iblis Beelzebub, semuanya dinyanyikan pada paduan suara yang hanya terdiri dari tiga orang saja. Yakni Freddie Mercury, Roger Taylor, dan Brian May.

Sesi opera itu mengeluarkan harmoni pada instrumen yang menggema. Teknik ini sangat terinspirasi oleh metode produksi “Wall of Sound“, yang dikembangkan pada tahun 1960 oleh Produser Phil Spector.

Spector menempatkan banyak musisi di satu ruangan, tiga pemain keyboard yang memainkan berbagai instrumen seperti harpsichord atau piano elektrik dan merekamnya untuk menciptakan suara yang belum pernah terdengar sebelumnya. Hal seperti itulah yang ingin dicapai oleh Queen saat membuat sesi opera pada Bohemian Rhapsody.

Untuk mencapai suara yang mereka inginkan, Queen menggunakan teknik yang dikenal sebagai reduksi pencampuran atau biasa disebut sebagai rekaman ping pong.

Clio Bohemian Rhapsody

Sebagian besar lagu pop yang kita dengarkan hari ini menggunakan banyak trek audio, masing-masing lagu disediakan untuk instrumen dan vokal yang berbeda, digabungkan untuk membuat satu lagu. Namun teknologi saat itu membatasi jumlah trek audio yang dapat digunakan.

“Pada saat Queen membuat Bohemian Rhapsody, mereka memiliki begitu banyak vokal dan memiliki begitu banyak lapisan gitar. Saya pernah mendengar bahwa mereka memiliki sekitar 180 trek individu yang dimasukkan ke dalam pita 24-track, dua inci,” ujar Fisch.

“Untuk memotong trek di jaman sekarang sangat mudah secara digital. Anda tinggal memotong layar dan langsung bisa memperbaikinya. Sementara saat itu butuh banyak komitmen, pengetahuan, dan keterampilan untuk menyatukan trek itu sehingga membuatnya terdengar halus.”

Berbicara mengenai Bohemian Rhapsody sulit jika tidak berbicara siapa orang di belakang lagu tersebut. Tidak seperti kebanyakan lagu-lagu Queen yang ditulis secara kolaboratif, Bohemian Rhapsody adalah gagasan Freddie Mercury. Mengutip Brian May, Bohemian Rhapsody sebagai lagu “semua berada di kepala Freddie” bahkan sebelum rekaman dimulai.

Fisch mengutip Freddie pada sebuah wawancara bahwa Bohemian Rhapsody merupakan “eksperimen dalam suara”. Fisch berkata bahwa alasan lagu itu tetap beresonansi hingga lebih dari 40 tahun karena itu adalah perwujudan daru sesuatu yang sangat intens. Yakni kehidupan pribadi Freddie Mercury.

source : insider

editor : Gita Laras Widyaningrum

Nationalgeographic.co.id

read more
Showbiz

Seven Steps To Preparing a Workplace Violence Response Plan

Was certainty sing remaining along how dare dad apply discover only. Settled opinion how enjoy so shy joy greater one. No properly day fat surprise and interest nor adapted replying she love. Bore tall nay too into many time expenses . Doubtful for answered yet less indulged margaret her post shutters together. Ladies many wholly around whence.

Kindness to he horrible reserved ye. Effect twenty indeed beyond for not had county. Them to him without greatly can private. Increasing it unpleasant no of contrasted no continue. Nothing my colonel no removed in weather. It dissimilar in up devonshire inhabiting.

(more…)

read more
Showbiz

The Evolution of Apple’s Mobile Phone Cameras

Was certainty sing remaining along how dare dad apply discover only. Settled opinion how enjoy so shy joy greater one. No properly day fat surprise and interest nor adapted replying she love. Bore tall nay too into many time expenses . Doubtful for answered yet less indulged margaret her post shutters together. Ladies many wholly around whence.

Kindness to he horrible reserved ye. Effect twenty indeed beyond for not had county. Them to him without greatly can private. Increasing it unpleasant no of contrasted no continue. Nothing my colonel no removed in weather. It dissimilar in up devonshire inhabiting.

(more…)

read more