close

MOST POPULAR

Sains & Techno

Apple Music: Everything You Need to Know about Apple Campaign

Was certainty sing remaining along how dare dad apply discover only. Settled opinion how enjoy so shy joy greater one. No properly day fat surprise and interest nor adapted replying she love. Bore tall nay too into many time expenses . Doubtful for answered yet less indulged margaret her post shutters together. Ladies many wholly around whence.

Kindness to he horrible reserved ye. Effect twenty indeed beyond for not had county. Them to him without greatly can private. Increasing it unpleasant no of contrasted no continue. Nothing my colonel no removed in weather. It dissimilar in up devonshire inhabiting.

(more…)

read more

MOBLIE

APPLICATIONS

- Advertisement -
Langitku Networks

LATEST REVIEWS

THE LATEST

Lifestyle

Sehat Dulu Baru Cari Uang atau Cari Uang Buat Sehat?

LANGITKU NETWORKS, Sebetulnya ini bukan pertanyaan yang layak dijadikan polemik. Apalagi jika didompleng suatu kepentingan yang ‘maksa’.

Di tengah zaman yang penuh hingar bingar informasi seputar jurus sehat yang bikin pusing kepala (dan akhirnya tetap tidak sehat juga) lalu publik menjadi apatis – dan memilih hidup seadanya, yang penting kantong tak kering.

Dan dengan kantung penuh banyak orang menganggap semua bisa dibeli, termasuk obat paling mahal dan layanan rumah sakit berkelas.

Saya jadi teringat pembicaraan sekian belas tahun yang lalu dengan salah seorang taipan di Singapura – negri yang membanggakan kualitas layanan kesehatannya.

Ia berkata,”Tidak apa-apa kita nikmati hidup di masa muda, sepuas-puasnya selagi bisa, biar tidak menyesal di hari tua. Dan di masa muda itu cari uang juga sebanyak-banyaknya, selain buat bersenang-senang juga tabungan jika sakit nanti. Lihat orang yang tak punya uang: sudah hidupnya susah, mau mati pun susah!”.

Saya tercenung cukup lama saat itu. Tak lama kemudian salah seorang kerabat menertawakan pekerjaan saya yang dianggapnya seperti memindahkan air laut dengan sendok.

Ia sama sekali tak merasa perlu repot-repot memikirkan apa yang dimakannya sehat atau tidak. Menurutnya, jatuh sakit ibarat nasib. Tak perlu pula utak atik statistik.

Ada orang yang seumur hidupnya berusaha keras ‘ hidup sehat’ faktanya tidak bahagia, bahkan tersisih dari pergaulan, karena cara makan yang aneh dan tidur ‘kepagian’, sementara orang lain masih menikmati hiburan malam.

Dan, ia menambahkan – semua orang pasti mati – dan ‘saya tidak mau jadi mayat paling sehat di kuburan’.

Barangkali orang-orang seperti itu hanya melihat lingkaran kecil dalam hidupnya. Bahkan ‘kenikmatan’ jangka pendek, sependek pemahamannya tentang ‘urip sing murup’ – istilah Jawa tentang hidup bernyala penuh dengan gairah dan semangat.

Mencari uang dengan gairah dan semangat justru bisa terjadi jika orangnya sehat. Sehat bukan hanya sekadar bebas dari penyakit, tapi juga literasinya, pemahamannya, perilakunya.

Alhasil uang yang didapatkan pun dapat digunakan untuk meneruskan hidup yang lebih bermanfaat sekaligus hemat, karena rongrongan penyakit tidak menempati pos pengeluaran yang terbesar dalam keluarga.

Peluang mencari uang tanpa dimulai dari hidup yang sehat, berpusar menciptakan lingkaran setan.

Seperti dikutip dari Profil Kesehatan Indonesia tahun 2019 yang dicatat oleh Badan Pusat Statistik 2020, rata-rata pengeluaran kelompok makanan per kapita per bulan ranking tertinggi dikuasai makanan dan minuman jadi 17.26% (naik dari 14.14%), urutan ke dua dengan amat mengejutkan direbut rokok (6.05%) dan posisi ketiga baru padi-padian (5.57%) – yang justru menurun dibanding 2016 (6.82%). Apakah orang Indonesia lebih mementingkan merokok ketimbang memenuhi makanan pokoknya?

Sangat ironis bila kita amati konsumsi rokok ini hampir dua kali lipat ketimbang konsumsi sayuran (3.25%) dan ikan (3.89%).

Saat rokok naik peringkat, mirisnya belanja sayur justru menurun dibanding 2016 (3.65%).

Beberapa fakta angka seperti ini, akan semakin mengerikan apabila pendapatan kian meningkat.

Kemampuan menghasilkan uang tidak sebanding dengan derajat kesehatan yang sama sekali tidak diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Orang menghabiskan uangnya untuk produk-produk konsumsi yang sama sekali tak dibutuhkan tubuh, kecuali demi pamer bisa makan sesuai tren.

“Duo mematikan” kian mengerikan saat peningkatan penghasilan dihadapkan rayuan iklan.

Apabila pemerintah juga tidak meletakkan derajat kesehatan sebagai tolok ukur keberhasilan pembangunan atau salah kaprah menilai makna ‘derajat kesehatan’ hanya sekadar canggihnya fasilitas kesehatan, maka pembangunan manusia seutuhnya akan menuju jurang krisis.

Tidak banyak orang menyadari, bahwa orang tua yang terpapar edukasi adalah mereka yang mampu memilih bahan pangan yang baik, meracik dengan benar, dan mengolah dengan cara yang sehat.

Bukan memilih daftar menu jasa layanan antar atau tinggal memanaskan produk ajaib yang katanya tinggi protein dan serat.

Sudah waktunya Indonesia belajar dari negara-negara lain yang sempat mengalami jatuh bangun menata pola konsumsi rakyatnya dan harga mahal yang harus dibayar, saat murid SD mengira saus tomat adalah kategori sayur (karena ngotot ada kata ‘tomat’nya).

Begitu pula ketika kita mendorong masyarakat meningkatkan asupan sayur dan buah, apabila tidak disertai pemahaman dan kontruksi cara berpikir yang masuk akal, maka konsumsi sayur dan buah akan menjadi kebiasaan mewah, karena hidup sehat diandaikan perlu berlangganan jus untuk proses ‘detoks’ atau menyisipkan aneka ‘superfood’ impor ke dalam blenderan.

Padahal, sayur dan buah sudah sempurna tercipta seperti apa adanya. Dan tidak ada kurikulum ‘manajemen detoks’ di program studi ilmu gizi maupun fakultas kedokteran di mana pun.

Mengondisikan masyarakat hidup sehat sehingga mereka bisa cari uang yang akan bermanfaat untuk kehidupan yang lebih baik (bukannya diboroskan lagi untuk ‘menambal’ tubuh yang didera penyakit akibat gaya hidup ngawur), ibaratnya seperti memulihkan seorang anak yang menderita infeksi cacing sebelum mengejar keterlambatan tumbuh kembangnya.

Merupakan tindakan sia-sia menjejali anak cacingan dengan segala sumber nutrisi, sementara parasitnya belum ditangani.

Alih-alih sang anak menjadi sehat, berbagai asupan pangan dan suplemennya justru menjadi penyubur koloni cacing dalam ususnya.

Pentahelix yang terdiri dari pemerintah, masyarakat, akademisi, media dan pelaku industri sebagai upaya penanggulangan masalah gizi belum menampilkan hasil signifikan yang secara nasional bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan.

Pelibatan pelaku industri dan pebisnis terlalu sulit untuk benar-benar bisa disebut ‘bersih’ dari kepentingan, minimal dengan pencantuman logo, yang akhirnya menjadi iklan terselubung yang dengan mudah dikenali publik sebagai benang merah produk yang iklannya tanpa kendali mengalir, ketimbang edukasi sesungguhnya yang memberdayakan masyarakat dengan segala kekayaan lokalnya.

Sungguh, begitu banyak pekerjaan rumah yang masih menumpuk terbengkalai atau butuh revisi akibat lalai.

Perlu kerjasama yang tujuan satu-satunya demi kepentingan rakyat Indonesia. Mengendorkan nafsu mencari untung, ibaratnya memberi kesempatan orang lain menabung.

Sehingga, keluarga Indonesia menemukan otentisitas makna sehat sesungguhnya, bangga akan kearifan lokalnya, dengan demikian sehat dan berdaya bukan lagi mimpi.

 

 

 

source : Kompas.com
Penulis: DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Editor: Bestari Kumal Dewi

 

 

read more
DaerahNews

Di LPK Simbuang-Mappak, Wagub Sulsel : Jadilah Orang Yang Berintegritas

LANGITKU NETWORKS, Tana Toraja – Latihan pengembangan kepemimpinan menjadi fokus utama dalam proses belajar di oraganisasi daerah Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Simbuang-Mappak.

Dengan tema “Mengaktualisasi karakter kader yang berintegritas pada kepemimpinan”, kegiatan tahunan tersebut di laksanakan di gedung Aptisi, 1-3 Desember 2020.

Wagub Andi Sudirman Sulaiman yang juga dikenal sangat memperhatikan wilayah pedalaman di Sulsel salah satunya Simbuang Mappak menghadiri secara virtual.

Diketahui, Wagub Sulsel saat ini sedang melakukan kunjungan kerja di Tana Toraja dan Toraja Utara.

“Kemarin kita sudah melaksanakan kegiatan yang diselenggarakan Bawaslu Sulsel dihadiri oleh Bawaslu RI dan seluruh Bawaslu Se Sulsel,” kata Andi Sudirman Sulaiman dalam sebuah video, Selasa 1 Desember 2020.

Itu dia sampaikan kepada mahasiswa untuk mengingatkan kembali tanggung jawab menjaga idealis.

“Partisipasi Mahasiswa dalam pemilihan sebagai pemilih yang muda, tentu harus sangat detail dalam memilih kepala daerah. Saya yakin adik adik mencari pemimpin yang berintegritas,” sambungnya.

Pemimpin lahir selalu mengawali proses proses yang baik. Proses yang baik itu adalah proses pilkada.

“Mahasiswa harus turut mengedukasi kepada seluruh paslon dan masyarakat bahwa mereka harus menjadi contoh yang baik termasuk dalam politik atau pilkada. Tidak melakukan politik uang dan kecurangan lainnya. Ajaklah para paslon calon pemimpin untuk adu program yang realistis dikerjakan dan dibutuhkan masyarakat” jelasnya.

Dia berharap, agar kegiatan latihan dasar kepemimpinan terus di galakkan. Sehingga mampu menumbuhkan rasa integritas.

“Integritas tidak hanya di terapkan saat menjadi Mahasiswa, juga setelah selesai bahkan ketika menjadi pejabat nantinya, tokoh masyarakat, jadilah orang-orang yang berintegritas,” pesan Andi Sudirman Sulaiman kepada seluruh peserta.(jalu)

read more
DaerahNews

Wagub Sulsel Ingin Wujudkan Selayar Daerah Wisata Andalan

LANGITKU NETWORKS, Selayar — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan terus berkomitmen untuk kemajuan Kabupaten Kepulauan Selayar. Hal itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman menyampaikan sambutannya secara virtual pada 415 Kabupaten Kepulauan Selayar, Minggu, 29 November 2020.

Peringatan itu melalui Rapat Paripurna Istimewa DPRD Selayar yang dipimpin oleh Ketua DPRD Selayar, Mappatunru, yang juga dihadiri oleh Pjs. Bupati Kepulauan Selayar, Asriady Sulaiman; Sekda; Anggota DPRD, Anggota DPR RI, Rapsel Ali; Seluruh OPD. Hari jadi Kabupaten Kepulauan Selayar kali ini mengangkat tema “Mewujudkan Selayar Sebagai Daerah Kunjungan Wisata Andalan Sulawesi Selatan”.

Wagub Andalan akronim dari nama Andi Sudirman Sulaiman hadir secara virtual dengan mengenakan pakaian adat Bugis Makassar. Menurut Wagub Sulsel, bahwa Selayar merupakan wilayah kepulauan dengan potensi yang besar. Bahkan menjadi salah satu daya tarik wisata menuju destinasi wisata andalan Sulsel.

Ia menegaskan komitmen bersama terus memajukan Selayar dengan menjadikan sebagai bagian dari program strategis Provinsi.

“Provinsi terus membangun Infrastruktur Jalan, Pertanian Jeruk Khas Selayar, Perikanan dan Kelautan, Kebutuhan Dasar Kepulauan dan Wisata termasuk menggodok Selayar dalam penetapan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sinergitas terus akan terbangun demi Selayar yang maju dan lebih baik,” ungkapnya.

“Program Ekonomi khusus di Kepulauan Selayar sementara dikaji dan semoga prosesnya dapat berjalan cepat. Program salah satunya yang saya inginkan dapat mewujudkan Selayar sebagai lokasi wisata Andalan Sulsel,” kata Andi Sudirman Sulaiman

Pemerintah Sulawesi Selatan terus mendesak dan mendorong masalah yang dihadapi masyarakat Kabupaten Kepulauan Selayar. Sementara itu, listrik di Kepulauan, saat ini kami memprogram kembali program listrik di Kepulauan Selayar.

“Pemerataan Keadilan pembangunan harus ditegakkan sesuai sila ke 5 Pancasila. Pelayanan dasar di kepulauan harus terjamin terutama pendidikan dan kesehatan,” tegas Andi Sudirman Sulaiman.

Dirinya bersama Gubernur Sulsel terus mendorong bagaimama masyarakat Kepulauan selayar harus mendapatkan prioritas pelayanan dasar. Pelayanan dasar kelistrikan, mendorong telekomunikasi, sistem air minum yang ada di kepulauan.

Program harus fokus dan tajam ke masyarakat, seperti halnya di Pemprov Sulsel. Program telah dirampingkan, sehingga program menjadi efektif dan efesien.

“Komunikatif dan bersinergi antar seluruh pemangku kebijakan sangat diperlukan untuk mewujudkan keadilan pembangunan bagi Masyarakat Selayar. 415 tahun bukan umur yang sangat singkat, dengan umur tersebut harus mampu memajukan Kabupaten Kepulauan Selayar,” tambahnya

Dalam sambutannya, Pjs. Bupati Kepulauan Selayar, Asriady Sulaiman melaporkan kondisi dan potensi Kabupaten Kepulauan Selayar. Mencermati kondisi dan potensi wilayah tersebut, Asriady mengatakan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan diperhadapkan terhadap berbagai tantangan sekaligus sebagai peluang untuk dikembangkan wilayah yang dihuni oleh penduduk yang tersebar di setiap pulau.

Dikemukakan sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi Sulsel, serta berangkat dari ketersediaan potensi sumber daya alam yang mumpuni, maka Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar telah memilih bidang kepariwisataan dan bidang kelautan serta perikanan sebagai lokomotif pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Pengembangan bidang ini diharapkan menjadi pengungkit perekonomian masyarakat. Sedangkan untuk jangka menengah dan jangka panjang diharapkan dapat berkontribusi secara maksimal terhadap pertumbuhan ekonomi, baik pada tingkat Provinsi Sulsel maupun pada tingkat nasional.

Menyinggung soal RPJMD Sulsel, KEK Pariwisata Selayar diproyeksikan dapat menjadi salah satu pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sulsel, yang diharapkan dapat memberikan multiplier effect economi dan memberikan kontribusi peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah dan provinsi.(jalu)

read more
Sains & Techno

Siap-siap, Batas Umur Minimal Pengguna Medsos 17 Tahun

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Pemerintah berencana untuk menerapkan pembatasan usia penggunaan layanan media sosial (medsos) mulai dari Facebook, Twitter, maupun Instagram. Bila diterapkan, maka pengguna medsos tersebut harus berada di usia minimal 17 tahun.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mengusulkan pembatasan usia pengguna medsos itu dimasukkan ke dalam Rancangan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi (RUU PDP) yang saat ini masih dalam pembahasan antara pemerintah dan Komisi I DPR RI.

Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan, bila melihat regulasi General Data Protection Regulation (GDPR) itu batasan di usia 16 tahun, tetapi nanti Indonesia akan lebih tinggi lagi.

“Batas usia ini memang peran orangtua itu penting dalam pemanfaatan teknologi digital. Contohnya saat anak saya waktu itu masih SMP dan belum 13 tahun, tapi teman-temannya sudah punya (akun medsos). Setelah 13 tahun, boleh punya akun Facebook tapi orangtua jadi teman pertamanya,” tutur Semual dalam diskusi virtual “Melindungi Jejak Digital dan Mengamankan Data Pribadi”.

“Nah, di RUU nanti batasannya bukan hanya 13 tahun. Kalau kita lihat GDPR itu batasannya 16 tahun, di Amerika juga. Di Indonesia dalam RUU PDP ini mengusulkan batasannya 17 tahun, di bawah 17 tahun harus ada consent dari orangtua,” sambungnya.

Dirjen Aptika menekankan bahwa peran orangtua terhadap anak yang memiliki akun medsos itu sangat penting. Sehingga persetujuan orangtua semacam ‘restu’ agar anak yang usianya di bawah persyaratan bisa membukan akun medsos.

“Memang ini akan menyulitkan. Kenapa harus dilakukan demikian? kalau tidak, nanti akan terputus hubungan anak dengan orangtua. Anak buat dunia sendiri, orangtua buat dunia sendiri. Ini bahaya, padahal (keluarga) itu unit terkecil yang perlu kita bina,” tutur mantan Ketua Umum APJII ini.

Berbicara sejauh mana sekarang pembahasanRUU PDP, Dirjen Aptika menyebutkan bahwa rancangan aturan tersebut sudah mencapai

“Kami sudah lakukan pembahasan dengan DPR dari 300 DIM, sudah terselesaikan separuhnya. Diharapkan segera dituntaskan tahun ini, kalau tidak awal tahun depan,” kata pria yang disapa Semmy ini.

 

 

source : Agus Tri Haryanto – detikInet

read more