close
Lifestyle

Waktu Olahraga yang Membuat Kita Kesulitan Tidur, Menurut Studi

Ilustrasi olahraga malam(microgen)

LANGITKU NETWORKS, Jakarta – Olahraga rutin dan tidur berkualitas adalah kunci untuk menjaga kesehatan fisik dan mental kita.

Para dokter dan ahli sepakat mengatakan bahwa olahraga yang konsisten akan membuat kita memeroleh tidur yang lebih baik.

Namun, hubungan antara olahraga dan tidur tidak sesederhana itu.

Sebuah temuan dari para peneliti di Concordia University yang dimuat dalam jurnal Sleep Medicine Reviews mengulas lebih dalam kaitan antara olahraga dan tidur.

Studi ini meninjau beberapa studi komprehensif terkait pengaruh olahraga intensitas tinggi terhadap tidur, termasuk waktu individu berolahraga.

Hasilnya, olahraga akan meningkatkan kualitas tidur sebagian besar orang selama rutinitas tersebut selesai dua jam sebelum waktu tidur.

“Secara keseluruhan, analisis kami menunjukkan ketika olahraga berakhir dua jam sebelum tidur, akan ada manfaat tidur yang diperoleh,” ujar penulis utama studi Emmanuel Frimpong.

“Manfaat itu termasuk peningkatan sleep onset (transisi dari kondisi bangun ke tidur), dan peningkatan durasi tidur.”

“Di sisi lain, ketika olahraga selesai kurang dari dua jam sebelum tidur, tidur akan berdampak negatif,” sambung dia.

“Butuh waktu lebih lama bagi individu untuk tertidur dan durasi tidur berkurang.”

Perlu diketahui, studi ini tidak menjamin berolahraga akan membantu mengatasi masalah tidur.

Penulis studi menekankan, kondisi tubuh setiap orang berbeda, dan banyak faktor seperti gaya hidup dan genetik yang dapat memengaruhi pola tidur individu.

“Ketika kami meninjau literatur tentang studi ini, kami menemukan ada banyak hasil yang beragam,” kata Melodee Mograss, neuropsikolog kognitif dan peneliti di PERFORM Sleep Lab.

“Beberapa studi melihat waktu latihan, sementara studi lain berfokus pada tingkat kebugaran peserta, atau jenis latihan.”

Tim peneliti di Concordia University mengumpulkan data dari 15 studi relevan terdahulu yang berfokus pada orang dewasa dan orang paruh baya dalam kondisi sehat.

Seluruh studi tersebut meninjau dampak dari satu sesi olahraga terhadap kualitas tidur peserta di malam hari.

Analisis statistik dilakukan untuk mengidentifikasi dan memeriksa berbagai variabel tidur dan olahraga.

Variabel itu mencakup waktu berolahraga (sore atau larut malam), jarak antara waktu olahraga dengan waktu tidur (kurang atau lebih dari dua jam), tingkat kebugaran individu, intensitas olahraga, durasi, dan jenis olahraga.

Dari studi tersebut, terungkap orang dewasa yang memiliki gaya hidup tidak aktif yang berolahraga di sore hari dengan jarak dua jam sebelum tidur mendapatkan peningkatan durasi tidur.

Waktu yang dibutuhkan untuk mulai tertidur juga menjadi lebih baik pada peserta studi.

Temuan lainnya, bersepeda menjadi latihan paling bermanfaat untuk mempromosikan tidur yang lebih baik dan lebih dalam.

Sesi latihan juga harus dibatasi sekitar 30-60 menit.

“Berdasarkan temuan kami, orang dewasa dan orang paruh baya tanpa riwayat gangguan tidur sebaiknya melakukan okahraga malam di sore hari,” catat Frimpong.

Namun kembali lagi, hanya kita yang mengetahui kondisi tubuh kita.

Bagi orang yang cenderung aktif di pagi hari, olahraga di sore hari akan membuat mereka tetap terjaga dan kesulitan tidur.

Orang “pagi” sebaiknya berolahraga di pagi hari untuk memeroleh manfaat tidur yang sama seperti orang “malam” yang berolahraga di sore hari.

“Individu juga harus menjaga jadwal olahraga yang konsisten, karena berolahraga pada waktu yang berbeda di malam hari dapat menyebabkan gangguan tidur,” ujar Frimpong. (*)

 

 

 

 

source : kompas.com

Leave a Response